Postingan

Ketika aku takut akan menikah

Hai, apa kabar semuanya? semoga kalian baik baik saja ya. Maaf kalau belakangan ini aku nggak update-update. Aku sebenernya bingung mau nulis apa karena beberapa waktu ini ideku belum ada. Kebetulan sekarang ada satu hal yang muncul dipikiranku, dan semoga kalian suka sama tulisan atau karya kecilku kali ini. Ada satu hal yang belakangan ini cukup sering muncul di kepalaku. Aku takut menikah. Nggak salah kan kalau cowok takut menikah? Tapi kalau boleh jujur, ketakutanku bukan cuma tentang masalah pekerjaan, uang atau tanggung jawab. Ada hal lain yang jauh lebih sering aku pikirkan. Bagaimana caranya aku tetap mencitai seseorang ketika dia melakukan kesalahan? dan sebaliknya.... Bagaimana kalau suatu hari aku melakukan kesalahan yang cukup fatal, lalu dia tidak bisa lagi mencitaiku seperti sebelumnya? Bukan berarti aku takut dengan pernikahan. Bukan juga karena aku takut mencitai atau dicintai. Tetapi pernikahan itu bukan sekedar cinta seperti waktu kita masih sekolah. Pernikahan adalah...

Tentang Kekurangan, Ketulusan, dan Rasa Takut Tidak Cukup

Hai guys, apa kabar? Udah lama aku nggak bikin blog. Hari ini aku nemu ide yang menarik dari salah satu konten di TikTok. Di video itu, aku melihat sepasang kekasih yang udah lama bersama. Yang cewek punya kekurangan — dia tunarungu — tapi cowoknya tetap setia nemenin dia. Melihat itu bikin aku mikir: “Apakah aku bisa seperti itu? Menemani seseorang dengan tulus, walau kondisi ekonomi lagi down dan aku sendiri masih punya banyak kekurangan?” Jujur, di saat aku nonton video itu, aku iri . Bukan iri karena mereka tampak bahagia… tapi iri karena aku nggak yakin apakah aku bisa setulus itu. Aku iri sama keberanian mereka untuk tetap bertahan, meskipun hidup nggak sempurna dan mereka punya luka masing-masing. Hubungan mereka bikin aku makin mikir: “Apakah aku bisa setulus cowok itu? Apakah aku bisa kuat? Sabar? Dan bertahan menerima kekurangan pasanganku nanti?” Aku ngerasa… aku belum cukup baik buat siapapun. Kayak masih banyak hal yang harus aku beresin, masih banyak kekura...

Dari Aku yang Pernah Egois, Kini Belajar Tumbuh

Dulu, aku belum benar-benar mengerti apa itu hubungan dua arah. Yang aku tahu saat itu, orang lain harus mendengarkan ceritaku. Harus tahu apa yang aku rasakan, alami, dan pikirkan.  Aku terbiasa menjadi pusat dalam setiap percakapan — seolah hanya aku yang butuh didengar, seolah itu satu-satunya cara agar aku merasa berarti. Aku lupa… bahwa orang lain juga punya cerita.  Sampai akhirnya, ada satu momen yang diam-diam menyentakku. Saat itu, sahabatku mengajakku pergi — sekadar nongkrong santai. Di tengah obrolan, dia mulai bercerita. Katanya, akhir-akhir ini dia sedang bingung dengan hubungannya bersama pasangannya. Awalnya aku hanya mendengarkan sambil sesekali menimpali. Tapi semakin lama dia bicara, aku sadar… aku nggak tahu banyak tentang apa yang sedang dia hadapi. Padahal kami dekat, sering ngobrol, sering bareng. Tapi soal ini, aku benar-benar buta. Ternyata kami hanya dekat secara fisik. Sering bersama, sering tertawa, tapi selama ini aku sibuk jadi pusat perhatian. Si...

Setiap Ruang, Setiap Perjalanan

Haloo semua, kembali lagi di blog satu kata: aku . Aku mau cerita sedikit, sebentar lagi aku akan yudisium dan wisuda. Rasanya campur aduk: lega, senang, sekaligus nggak nyangka akhirnya bisa sampai di tahap ini. Lebih dari itu, aku merasa bahagia karena bisa mewujudkan permintaan orang tua, sesuatu yang sejak dulu mereka tunggu-tunggu. Beberapa hari ini aku juga lagi senang sama salah satu lagu pop Indonesia. Lagu ini bikin aku terinspirasi untuk menulis, jadi aku ingin berbagi perasaan yang aku dapat dari mendengarkannya. Tenang, sebelum nulis blog ini aku sudah kirim pesan langsung ke penyanyinya. Semoga saja dibalas dan diizinkan, ya. Selama mendengarkan lagu ini, aku merasa ada makna yang dalam sekali. Liriknya seolah mengajarkan kita bahwa boleh kok bersedih . Ada ruang-ruang dalam hidup yang memang harus kita jalani: ruang untuk jatuh, untuk merasa hampa, bahkan untuk kehilangan arah. Dan semua itu wajar. Justru dari ruang-ruang itu kita belajar mengenal diri lebih dalam. Gara...

Pulih dari Luka Lama adalah Tanggung Jawab Diri Sendiri

 Hai aku kembali lagi, kali ini aku nulis lagi karena mumpung ada ide dikepala, jadi nikmatin baca blogku yaa teman-teman. Ternyata setelah melepaskan seseorang yang aku tunggu dan aku harapkan itu, ada banyak energi yang ikut hilang. Kali ini aku bener-bener capek buat harus memulai hubungan baru lagi, membuka hati, dan harus berharap lagi. Aku selalu berpikir, apakah aku benar-benar layak dicintai dengan tulus? Apakah akan ada seseorang yang mau tetap tinggal di sisiku setelah tahu semua kekuranganku? Kadang aku heran, bagaimana orang lain bisa punya energi untuk kembali mengenal, membuka hati, dan menjalani hubungan baru. Dari mana mereka mendapatkan kekuatan itu? Sementara aku, masih di sini… belajar berdamai dengan rasa lelah, dengan kehilangan, dan dengan hati yang belum sepenuhnya pulih. Mungkin untuk sekarang, jalanku adalah belajar mencintai diri sendiri dulu. Karena sebelum yakin ada orang yang bisa tinggal, aku harus lebih dulu bisa tinggal bersama diriku sendiri. Dan a...

Merindukan Kehangatan yang Tak Kunjung Kembali 🌻

Hai, gimana kabar mu di sana? Udah nggak ngerasain sakit lagi kan? Aku di sini mulai ngerasa kehilanganmu, padahal kamu udah lama ninggalin kami. Semakin dewasa, aku makin sadar kalau kepergianmu meninggalkan luka yang sampai sekarang belum kutemukan obatnya. Ada ruang kosong di dalam diri ini yang nggak bisa digantiin oleh siapapun. Dulu, waktu kamu pergi, aku bahkan nggak benar-benar mengerti kenapa semua orang menangis. Aku cuma bertanya-tanya dalam hati, ada apa ini? Tapi aku nggak berani nanya langsung. Dan sekarang, setelah semua tahun berlalu, aku sadar… ternyata itu adalah momen aku benar-benar kehilanganmu. Jujur, aku kangen. Pengen banget bisa lihat kamu lagi, ngerasain suasana hangat yang dulu selalu ada. Aku tahu itu nggak mungkin, tapi aku percaya kenanganmu akan selalu hidup di dalam diriku. Dan mungkin, dengan itu, aku bisa terus berjalan. Jika kamu masih ada, buah alpukat yang selalu ada di rumahmu itu pasti tetap jadi favoritku. Tapi sejak kamu nggak ada, aku nggak p...

Saat Hidup, Tanpa Mengenal Diri Sendiri

Setelah mencoba berdamai dengan diri sendiri, aku justru menemukan hal yang mengejutkan. Ternyata aku asing dengan diriku.  Bukan sekadar tidak memahami perasaan, tapi bahkan hal-hal sederhana seperti makanan atau minuman favorit pun aku tidak tahu.  Rasanya aneh, bagaimana bisa aku hidup bertahun-tahun dengan diriku sendiri, namun tidak benar-benar mengenalnya? Perlahan aku menyadari bahwa selama ini aku berjalan tanpa arah. Yang dimana hari hari terasa seperti rutinitas yang harus dilewatin, bukan sesuatu yang bisa aku nikmati, semuanya seperti sekedar "mengikuti arus kehidupan." Hingga akhirnya akupun bertanya-tanya: apa yang sebenernya aku suka? apa yang bisa membuatku hidup? Kesadaran ini membuatku pelan-pelan mengakui dan menyadari: aku yang tidak mempunyai motivasi atau ambisi yang kuat dan jelas. Bukan berarti aku tak ingin melangkah.  Aku selalu bertanya pada diriku ini, " apa sih yang sebenernya aku cari? kenapa aku seasing ini pada diriku? bukan nya dulu disaa...