Ketika aku takut akan menikah
Hai, apa kabar semuanya? semoga kalian baik baik saja ya.
Maaf kalau belakangan ini aku nggak update-update. Aku sebenernya bingung mau nulis apa karena beberapa waktu ini ideku belum ada. Kebetulan sekarang ada satu hal yang muncul dipikiranku, dan semoga kalian suka sama tulisan atau karya kecilku kali ini.
Ada satu hal yang belakangan ini cukup sering muncul di kepalaku.
Aku takut menikah.
Nggak salah kan kalau cowok takut menikah?
Tapi kalau boleh jujur, ketakutanku bukan cuma tentang masalah pekerjaan, uang atau tanggung jawab.
Ada hal lain yang jauh lebih sering aku pikirkan.
Bagaimana caranya aku tetap mencitai seseorang ketika dia melakukan kesalahan?
dan sebaliknya....
Bagaimana kalau suatu hari aku melakukan kesalahan yang cukup fatal, lalu dia tidak bisa lagi mencitaiku seperti sebelumnya?
Bukan berarti aku takut dengan pernikahan. Bukan juga karena aku takut mencitai atau dicintai.
Tetapi pernikahan itu bukan sekedar cinta seperti waktu kita masih sekolah. Pernikahan adalah ibadah yang sangat panjang. Ada tanggung jawab, ada komitmen, dan ada dua orang dengan sifat serta kebiasaan yang berbeda yang memutuskan untuk menjalani hidup bersama.
Justru karena itu yang aku takutkan adalah kapasitas diriku sendiri.
Apakah aku bisa menafkahi? Apakah aku bisa menjadi pasangan yang baik? Apakah aku bisa menerima kekurangan pasanganku? Apakah aku bisa tetap bersikap baik ketika sedang marah? Apakah aku bisa menyelesaikan masalah tanpa membiarkan emosi mengambil alih?
Dan pertanyaan yang paling sederhana sekaligus paling sulit:
Apakah aku sudah cukup mengenal dan menerima diriku sendiri?
Karena bagaimana mungkin aku bisa menerima kekurangan orang lain kalau ternyata aku sendiri masih belum sepenuhnya menerima diriku?
Jujur, aku terakhir punya pasangan itu enam tahun lalu. Cukup lama bukan, aku dengan kesendirian ini?
Maka dari itu, semakin lama aku sendiri semakin banyak hal yang mulai aku pikirkan. Hal-hal yang mungkin sebelumnya nggak pernah terlintas dipikiranku.
Beberapa tahun belakangan ini, aku mencoba lagi untuk buka hati. Mencoba untuk berkenalan, mencoba untuk mengobrol dengan beberapa orang. Tapi ternyata setelah sekian lama sendiri, semuanya nggak mudah yang aku bayangkan.
Ada yang sebenernya baik, ada yang perhatian, bahkan ada juga yang secara sifat cukup sesuai yang aku cari. Tapi tetap saja, rasanya seperti ada sesuati yang kurang.
Jadi ketika ada seseorang yang mulai mau masuk ke dalam hidupku, aku malah berusaha menghindarinya.
Kadang aku sampai berpikir:
" Apa memang belum ada yang cocok, atau justru aku yang sudah terlalu nyaman dengan kesendirian?"
Jujur sampe sekarang pun, aku masih belum menemukan jawaban atas keraguan ini. Bisa saja memang diri ini belum siap untuk melakukan ibadah terpanjang itu, semoga saja nanti aku ketemu sama orang yang tepat untuk diriku.
Dan mungkin, ketika hari itu datang, aku akan mengerti kenapa selama ini aku memilih untuk sendiri.
satu kata : aku
Komentar
Posting Komentar