Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Saat Menjadi Baik Justru Menyakitimu

  "Pernah gak sih, kamu selalu menerima ajakan orang… padahal dirimu sendiri lagi capek?" Rasanya kayak menolak itu jadi kesalahan. Padahal tubuhmu teriak butuh istirahat, tapi kamu tetap hadir — demi menjaga perasaan orang lain. Demi mewujudkan ekspetasi mereka, mengorbankan diri kamu yang sedang lelah. Dan lama-kelamaan kamu asing dengan dirimu sendiri. Lupa bagaimana rasanya berkata "tidak". Kamu juga lupa untuk memprioritaskan diri kamu yang lelah. Sampai akhirnya, kamu jadi bertanya-tanya.... "Kenapa aku ga bisa berkata jujur tentang rasa capekku?". Apa karena kamu takut untuk dianggap berubah. Takut dicap tidak peduli.  Takut untuk dibilang egois. Takut kalau tiba-tiba menjauh, orang-orang akan salah paham. Padahal jauh di dalam hati, kamu sedang lelah, ingin sendiri. Tapi kamu tetap diam, tetap bertahan, tetap berusaha jadi "baik". Karena kamu takut... Takut kehilangan mereka, walau disaat yang sama, kamu kehilangan diri sendiri. Tapi apa...

Rindu Pulang, Padahal Belum Pergi

"  aku ingin pulang ke rumah... yang bukan sekedar bangunan, tapi tempat yang dimana aku bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya. Tempat  yang dimana aku bisa beristirahat dari lelah nya dunia. Tempat yang tetap menerima, meski aku datang dengan hati yang tak utuh."  aku tahu bahwa jika ingin rumah yang tenang, aku sendiri harus berdamai dengan luka masalalu, luka yang memang sudah terlajur kering walaupun belum sempat di obatin. Karena tak ada rumah yang bisa menenangkan, kalau hatiku sendiri masih penuh dengan gemuruh yang belum aku redakan. Tapi, kadang aku ragu… Apakah aku benar-benar bisa mewujudkan rumah yang kuimpikan? Rumah yang tenang, yang tidak meninggikan suara, yang menerima tanpa syarat? Bisakah aku berdamai dengan luka-luka yang belum selesai? Atau justru aku akan terus dihantui oleh hal-hal yang belum mampu kupahami tentang diriku sendiri? Aku tahu, membangun rumah yang tenang tidak hanya tentang siapa yang menemaniku didalamnya. Tetapi tentang bagaimana aku ...

Bab Yang Masih Aku Tulis Diam-Diam

  Hai… aku nulis tentang kamu lagi. Maaf, bukan karena ingin membuka buku itu kembali. Aku hanya sedang berusaha berdamai, dengan cara paling sunyi: melepasmu. Aku tahu mungkin ada hal-hal yang gak selalu mudah, tapi aku percaya kamu bisa melaluinya dengan tenang. Sekarang aku cuma bisa percaya… kamu akan baik-baik saja, meski tanpa aku di sana. Bukan karena aku masih berharap kamu kembali, tapi karena kenangan kita terlalu nyata untuk diabaikan. Gimana kerjaanmu sekarang? Semoga semuanya berjalan lancar, ya. Ternyata bab melepaskan tentang kamu itu lumayan sulit, ya… Bukan karena aku masih berharap kamu kembali, tapi karena kenangan kita terlalu nyata untuk diabaikan. Ternyata, kita sudah terlalu jauh... untuk kembali memulai sesuatu yang lebih dari sekadar teman. Dan aku sedang belajar menerima, bahwa tidak semua yang terasa hangat, ditakdirkan untuk bertahan. Maaf jika aku masih sering menulis tentang perasaanku sendiri, tentang lukaku, dan tentang caraku melepaskan. B...

Takdir Ini Membentukku, Meski Kadang Membebani

Aku tidak membenci takdir, tapi aku mempertanyakannya. Sebagai anak tunggal, beban itu terasa berlipat — harapan yang dipikul sendirian, tanggung jawab yang tidak bisa dibagi, dan kesepian yang kadang terlalu sunyi untuk diceritakan. Aku sering bertanya dalam hati: kenapa harus aku? Kenapa jalanku seperti ini? Bukan karena aku tidak bersyukur, tapi karena aku lelah menahan semuanya sendiri. Ada hari-hari di mana aku mencoba kuat, dan ada hari-hari di mana aku hanya ingin dimengerti… oleh semesta, oleh takdir, oleh siapa saja. “Enak ya jadi anak tunggal, semua keinginan pasti diturutin.” Itu kalimat yang paling sering aku dengar. Orang-orang hanya melihat sisi luar — perhatian penuh dari orang tua, barang-barang yang memang tak perlu dibagi, dan hidup yang katanya nyaman. Tapi kenapa mereka tidak pernah bertanya: bagaimana keadaanmu? Mereka tidak tahu bahwa diriku adalah satu-satunya harapan orang tua. Tidak ada yang namanya teman tumbuh di rumah. Tidak ada tempat berkeluh kesah tent...

Semesta Tau Aku Pernah Menunggu

 Hai guys apa kabar ? Semoga kalian baik baik saja. Maaf banget klo aku jarang update karena udah masuk di semester akhir, lagi sibuk nyusun skiripsi. Hai, apa kabar kamu? Iya, kamu — orang yang ingin aku ajak dalam segala hal, orang yang ingin aku bawa masuk dalam cerita panjang hidupku. Semoga kamu selalu sehat dan dikelilingi oleh orang-orang baik. Kamu adalah orang yang paling lama aku tunggu. Walaupun sempat aku perjuangkan, pada akhirnya kamu tidak kembali padaku. Aku sadar, saat itu aku belum benar-benar stabil dalam mengambil keputusan, belum dewasa dalam mengelola emosi. Aku juga paham, diriku masih banyak kekurangan untuk bisa memperjuangkan kamu saat ini. Tapi aku bahagia melihat perkembanganmu sekarang. Kamu sudah berani melangkah jauh dari versi dirimu yang dulu terakhir aku kenal. Kamu harus tahu, sampai saat ini aku masih bingung — kenapa aku tetap menunggumu, padahal kamu sudah terlalu jauh untuk digapai. Hari ini adalah hari terakhir aku menghubungimu, juga har...