Tentang Kekurangan, Ketulusan, dan Rasa Takut Tidak Cukup
Hai guys, apa kabar?
Udah lama aku nggak bikin blog.
Hari ini aku nemu ide yang menarik dari salah satu konten di TikTok.
Di video itu, aku melihat sepasang kekasih yang udah lama bersama.
Yang cewek punya kekurangan — dia tunarungu — tapi cowoknya tetap setia nemenin dia.
Melihat itu bikin aku mikir: “Apakah aku bisa seperti itu? Menemani seseorang dengan tulus, walau kondisi ekonomi lagi down dan aku sendiri masih punya banyak kekurangan?”
Jujur, di saat aku nonton video itu, aku iri.
Bukan iri karena mereka tampak bahagia… tapi iri karena aku nggak yakin apakah aku bisa setulus itu.
Aku iri sama keberanian mereka untuk tetap bertahan, meskipun hidup nggak sempurna dan mereka punya luka masing-masing.
Hubungan mereka bikin aku makin mikir:
“Apakah aku bisa setulus cowok itu?
Apakah aku bisa kuat?
Sabar?
Dan bertahan menerima kekurangan pasanganku nanti?”
Aku ngerasa… aku belum cukup baik buat siapapun.
Kayak masih banyak hal yang harus aku beresin, masih banyak kekurangan yang aku sendiri belum selesai menghadapinya.
Kadang aku takut: takut ngecewain orang, takut nggak bisa jadi tempat yang aman buat siapapun.
Tapi di sisi lain, waktu aku lihat video itu, aku juga sadar… ternyata masih ada orang yang tulus sama pasangannya.
Bahwa dalam hubungan itu, bukan soal siapa yang effort-nya paling besar.
Bukan soal siapa yang selalu mengalah, atau siapa yang selalu kuat setiap hari.
Kadang hubungan itu sesederhana:
dua orang yang sama-sama berusaha, sama-sama belajar, sama-sama tumbuh…
meskipun pelan, meskipun banyak kurangnya.
Dan yang kalian tau bahwa hubungan yang baik itu bukan karena mereka sempurna tapi karena mereka saling memilih, bahkan di hari-hari yang berat.
Aku jadi mikir, mungkin masalahnya bukan “aku nggak cukup baik”,
tapi aku belum memberi diriku kesempatan untuk percaya
bahwa aku bisa mencintai dan dicintai dengan tulus
meski diri ini masih banyak kurangnya.
Selama ini aku menuntut diriku harus sempurna.
Harus sukses dulu.
Harus stabil dulu.
Aku selalu pikir, “kalau aku belum jadi apa-apa, mana mungkin ada yang mau sama aku?”
Tapi makin jauh aku jalan, makin aku sadar…
kesempurnaan itu bukan sesuatu yang bisa dicapai sendirian.
Kadang, kita justru berkembang karena ada orang yang tepat di samping kita.
Karena ada seseorang yang nggak cuma menerima kita apa adanya,
tapi juga mendorong kita buat jadi versi diri yang lebih baik.
Yang sempurna itu bukan manusianya—
tapi keberanian dua orang buat saling memilih,
meski keduanya masih banyak kurangnya.
Semoga suatu hari nanti, kita semua dipertemukan dengan seseorang
yang nggak cuma hadir di saat kita kuat,
tapi juga tetap menggenggam kita di hari-hari kita goyah.
Seseorang yang nggak menuntut kita sempurna,
tapi mau tumbuh, belajar, dan memperbaiki diri bareng-bareng.
Karena pada akhirnya, hubungan bukan tentang dua orang yang sudah selesai dengan dirinya,
tapi dua orang yang sama-sama mau berjalan pelan-pelan,
saling menerima, dan saling memilih setiap harinya.
satu kata : aku
Komentar
Posting Komentar