Dari Aku yang Pernah Egois, Kini Belajar Tumbuh

Dulu, aku belum benar-benar mengerti apa itu hubungan dua arah.

Yang aku tahu saat itu, orang lain harus mendengarkan ceritaku. Harus tahu apa yang aku rasakan, alami, dan pikirkan. Aku terbiasa menjadi pusat dalam setiap percakapan — seolah hanya aku yang butuh didengar, seolah itu satu-satunya cara agar aku merasa berarti.

Aku lupa… bahwa orang lain juga punya cerita. Sampai akhirnya, ada satu momen yang diam-diam menyentakku.

Saat itu, sahabatku mengajakku pergi — sekadar nongkrong santai. Di tengah obrolan, dia mulai bercerita. Katanya, akhir-akhir ini dia sedang bingung dengan hubungannya bersama pasangannya.

Awalnya aku hanya mendengarkan sambil sesekali menimpali. Tapi semakin lama dia bicara, aku sadar… aku nggak tahu banyak tentang apa yang sedang dia hadapi. Padahal kami dekat, sering ngobrol, sering bareng. Tapi soal ini, aku benar-benar buta.

Ternyata kami hanya dekat secara fisik.Sering bersama, sering tertawa, tapi selama ini aku sibuk jadi pusat perhatian.Sibuk ingin didengar, tanpa pernah benar-benar mendengarkan. Hari itu, aku merasa gagal sebagai sahabat.

Setelah kejadian itu, aku belajar bahwa dunia ini nggak selalu berputar di sekelilingku. Ada juga dunia milik orang lain — dengan cerita, luka, dan kebahagiaannya sendiri. Sekarang aku mulai belajar memahami orang lain, tanpa memaksa mereka untuk terus ada di duniaku. Karena pada akhirnya, setiap orang memang punya dunianya masing-masing.

Untuk orang-orang yang pernah kuanggap sahabat, semoga kalian bisa menggapai impian kalian masing-masing. Meskipun sekarang kita sudah jarang kumpul dan tertawa bersama seperti dulu, kalian tetap aku anggap sahabat — walau mungkin, di hati kalian aku bukan lagi bagian dari lingkaran itu.

— ditulis di satu kata: aku 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Kekurangan, Ketulusan, dan Rasa Takut Tidak Cukup

Ketika aku takut akan menikah