Semesta Tau Aku Pernah Menunggu

 Hai guys apa kabar ? Semoga kalian baik baik saja. Maaf banget klo aku jarang update karena udah masuk di semester akhir, lagi sibuk nyusun skiripsi.

Hai, apa kabar kamu?
Iya, kamu — orang yang ingin aku ajak dalam segala hal, orang yang ingin aku bawa masuk dalam cerita panjang hidupku. Semoga kamu selalu sehat dan dikelilingi oleh orang-orang baik.

Kamu adalah orang yang paling lama aku tunggu. Walaupun sempat aku perjuangkan, pada akhirnya kamu tidak kembali padaku. Aku sadar, saat itu aku belum benar-benar stabil dalam mengambil keputusan, belum dewasa dalam mengelola emosi. Aku juga paham, diriku masih banyak kekurangan untuk bisa memperjuangkan kamu saat ini.

Tapi aku bahagia melihat perkembanganmu sekarang. Kamu sudah berani melangkah jauh dari versi dirimu yang dulu terakhir aku kenal. Kamu harus tahu, sampai saat ini aku masih bingung — kenapa aku tetap menunggumu, padahal kamu sudah terlalu jauh untuk digapai.

Hari ini adalah hari terakhir aku menghubungimu, juga hari terakhir aku bertemu denganmu. Karena aku benar-benar harus memperbaiki diriku agar bisa menjadi lebih baik ke depannya. Aku tidak mau memaksakan sesuatu, ketika aku sendiri belum selesai dengan diriku sendiri.

Maaf, aku memilih mundur —  untuk memperjuangkanmu kali ini. Jika memang Tuhan menakdirkan kita untuk bersama, pasti akan ada jalan untuk itu. Tapi jika tidak, aku harap kamu menemukan seseorang yang bisa memahami kamu dengan baik. Seseorang yang bisa tumbuh bersama kamu, memenuhi keinginan dan mewujudkan impianmu — seperti yang dulu pernah kamu ceritakan padaku.

Aku menulis blog ini bukan untuk mengharapkanmu kembali, bukan pula untuk mengusik tenangmu. Tapi sebagai bentuk keberanian kecilku — untuk akhirnya merelakanmu. Bukan karena aku berhenti mencintaimu, tapi karena aku mulai belajar mencintai diriku sendiri.

Kalau suatu saat nanti kita bertemu lagi, entah sebagai siapa dan dalam keadaan seperti apa, aku harap kita bisa saling tersenyum. Tanpa penyesalan, tanpa beban. Hanya kenangan… dan dua hati yang sudah sembuh.

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, jika takdir itu berpihak padaku untuk bisa bersamamu, pastikan kita akan menjadi dua orang yang saling mengerti dan memahami satu sama lain.
Terima kasih telah menjadi salah satu alasan aku bertahan selama ini. Dan izinkan aku menutup buku kisah kita — bukan sebagai akhir, tapi sebagai jeda yang mungkin suatu hari akan menemukan lanjutannya… atau tetap dikenang sebagai cerita indah yang pernah ada.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Aku yang Pernah Egois, Kini Belajar Tumbuh

Tentang Kekurangan, Ketulusan, dan Rasa Takut Tidak Cukup

Ketika aku takut akan menikah