Saat Menjadi Baik Justru Menyakitimu

 "Pernah gak sih, kamu selalu menerima ajakan orang… padahal dirimu sendiri lagi capek?"

Rasanya kayak menolak itu jadi kesalahan. Padahal tubuhmu teriak butuh istirahat, tapi kamu tetap hadir — demi menjaga perasaan orang lain. Demi mewujudkan ekspetasi mereka, mengorbankan diri kamu yang sedang lelah. Dan lama-kelamaan kamu asing dengan dirimu sendiri. Lupa bagaimana rasanya berkata "tidak". Kamu juga lupa untuk memprioritaskan diri kamu yang lelah.

Sampai akhirnya, kamu jadi bertanya-tanya.... "Kenapa aku ga bisa berkata jujur tentang rasa capekku?". Apa karena kamu takut untuk dianggap berubah. Takut dicap tidak peduli.  Takut untuk dibilang egois. Takut kalau tiba-tiba menjauh, orang-orang akan salah paham.

Padahal jauh di dalam hati, kamu sedang lelah, ingin sendiri. Tapi kamu tetap diam, tetap bertahan, tetap berusaha jadi "baik". Karena kamu takut... Takut kehilangan mereka, walau disaat yang sama, kamu kehilangan diri sendiri.

Tapi apakah semua itu sepadan?

Apakah menjadi “baik” harus selalu berarti mengabaikan kebutuhan diri sendiri?

Mungkin, sesekali kamu perlu bilang: “Maaf, aku ingin istirahat.”
Bukan karena kamu tak peduli, tapi karena kamu juga layak dipedulikan — oleh dirimu sendiri.

Dan tidak apa-apa membatasi diri… bukan untuk menjauh dari orang lain, tapi untuk kembali dekat dengan dirimu yang sempat terlupakan.

Karena pada akhirnya, kamu juga butuh ruang untuk bernapas.
 Butuh tempat untuk pulang tanpa merasa bersalah hanya karena memilih diam.

 Menjaga diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan — itu adalah tanda bahwa kamu sedang belajar mencintai dirimu, tanpa perlu terus-menerus mengorbankan perasaanmu demi kenyamanan orang lain. 

Jadi, jika lelah… berhenti sejenak. Dengarkan hatimu. Pulanglah ke dirimu sendiri. Sebelum kamu kembali berjalan, pastikan kamu benar-benar hadir — untuk dirimu, dulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Aku yang Pernah Egois, Kini Belajar Tumbuh

Tentang Kekurangan, Ketulusan, dan Rasa Takut Tidak Cukup

Ketika aku takut akan menikah